Alat Kontrasepsi IUD dan Efek Sampingnya

Intra Uterine Devive (IUD) merupakan salah satu jenis alat kontrasepsi jangka panjang dan merupakan salah satu jenis alat kontrasepsi non hormonal yang ideal dalam upaya menjarangkan kehamilan. Meskipun Alat Kontrasepsi IUD ini memiliki beberapa Efek Samping. Namun Program BKKBN ini memberikan penekanan pada alat kontrasepsi IUD, terutama pada alat kontrasepsi IUD jenis CuT-380 A yang menjadi primadona dari program BKKBN saat ini.

Alat Kontrasepsi IUD

Adapun keuntungan dari alat kontrasepsi IUD adalah dapat langsung efektif segera setelah pemasangan. Kontrasepsi IUD merupakan metode kontrasepsi jangka panjang, yaitu dengan delapan tahun proteksi dan tidak perlu diganti. Sehingga pemakainya tidak perlu mengingat-ingat lagi kapan dia harus ber KB ulang. Kontrasepsi IUD jenis Cut380 ini tidak memiliki efek samping terhadap hormon, juga tidak ada pengaruhnya terhadap volume ASI ibu yang menyusui dan dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus.

Namun, alat kontrasepsi IUD juga dapat menyebabkan efek samping, diantaranya yaitu gangguan menstruasi, keluar cairan berlebih dari vagina (keputihan), sampai benang IUD hilang (ekspulsi). Efek samping dari alat kontrasepsi IUD ini merupakan masalah bagi seorang pasien yang memakainya. Karena bisa menjadi beban kejiwaan yang harus ditanggungnya, yang dapat berakhir pada adanya kecemasan atau kekhawatiran yang berlebih, sehingga seorang pasien akan mengalami kejadian putus pakai atau drop out menggunakan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim.

Efek Samping Alat Kontrasepsi IUD

Selain mempunyai efek samping yang sering terjadi seperti gangguan menstruasi, keluar cairan berlebih dari vagina (keputihan), sampai benang IUD hilang (ekspulsi) seperti yang sudah disebutkan di atas. Alat kontrasepsi IUD juga memiliki beberapa efek samping lainnya, beberapa diantaranya seperti:

1. Gangguan Menstruasi

Gejala perubahan siklus haid pada wanita umumnya pada tiga bulan pertama, dan akan berkurang setelah tiga bulan. Selain itu, haid menjadi lebih lama dan banyak. Timbulnya flek atau spooting antar menstruasi dan menjadi lebih sakit saat haid. Volume darah haid menjadi bertambah, rata-rata sampai 20-50% dari sebelum menggunakan kontrasepsi IUD.

2. Insersi

Timbulnya insersi dari pemasangan alat kontrasepsi IUD ini dapat menyebabkan meningginya konsentrasi plasminogen activators dalam endometrium. Sehingga enzim ini dapat mengakibatkan bertambahnya aktifitas fibrinolitik, serta menghalangi pembekuan darah, akibatnya timbul perdarahan yang lebih banyak saat menstruasi.

3. Kehamilan Ektopik

Efek samping dari alat kontrasepsi IUD juga adanya infeksi pelvic dan kehamilan ektopik. Apabila tidak ada kelainan patologis, perdarahan berkelanjutan dan perdarahan hebat disertai stolsel, lakukan konseling dan pemantauan. Beri ibu profen (800 mg, tiga kali sehari, selama satu minggu) untuk mengurangi perdarahan, serta berikan tablet besi (satu tablet setiap hari) untuk mencegah anemia. Anjurkan pasien untuk mencabut alat kontrasepsi IUD, jika terjadi anemia yang parah (Hb < 9 g) dan bantu pasien untuk memilih metode kontrasepsi lain yang lebih aman.

4. Keputihan

Efek samping dari kontrasepsi IUD lainnya yaitu, berupa keputihan (lechorea). Keputihan yaitu adanya pengeluaran cairan dari vagina (keputihan) yang bisa timbul dari berbagai keadaan, baik secara fisiologis dan secara patologis. Secara fisiologis, keputihan berwarna jernih, tidak berbau dan tidak menimbulkan gatal.

Secara patologis, gejalanya yaitu meningkatnya jumlah cairan vagina dari biasanya, hingga terus menerus muncul dan mengganggu, berbau amis, apek, busuk, berwarna kehijauan atau merah bercampur darah atau kuning. Penyebab dari keputihan ini karena reaksi endometrium dengan adanya alat kontrasepsi IUD di dalam rahim sebagai benda asing.

5. Ekspulsi

Selain itu ekspulsi juga merupakan efek samping dari pemasangan IUD. Ekspulsi adalah keluarnya IUD dengan sendirinya. Insidens tertinggi dari ekspulsi adalah dalam tiga bulan pertama setelah insersi, dan paling sering terjadi selama menstruasi, terutama periode pertama menstruasi setelah insersi. Gejala-gejala ekspulsi adalah bertambah panjangnya benang ekor IUD, tidak teraba benang ekor IUD, teraba batang IUD di dalam vagina. Penanganan yaitu, Jika IUD belum keluar semua, keluarkan IUD dan Pemasangan ulang IUD yang baru sesuai standar.

6. Dispareuni

Gejala dispareuni merupakan efek samping lainnya dari pemasangan IUD. Dispareuni adalah nyeri waktu melakukan hubungan 5eksual, atau jika suaminya mengalami perasaan kurang enak saat melakukan senggama. Penyebab dispareuni ini bisa disebabkan oleh karena benang yang terlalu panjang, atau cara pemotongan benang yang tidak tepat atau kurang pas. Untuk memastikan penyebabnya, dianjurkan untuk pemeriksaan dalam dengan speculum. Apabila benangnya terlihat terlalu panjang, maka segera potong benangnya dan buatlah agar ujung benang menjadi tumpul.

7. Perforasi Uterus

Perforasi uterus adalah kondisi dimana alat kontrasepsi IUD menusuk dinding uterus. Kondisi ini dapat menyebabkan pendarahan yang cukup hebat dan mengakibatkan infeksi. Meski kasus ini sebenarnya jarang terjadi, namun bisa saja terjadi. Meskipun sangat langka, namun masalah ini paling sering terjadi saat pemasangan alat kontrasepsi IUD ini yang dapat melukai rahim.

Baca : Alat Kontrasepsi IUD pdf.

8. Radang Panggul

Efek samping dari kontrasepsi IUD lainnya yaitu munculnya penyakit radang panggul. Meski penyakit radang panggul ini kasusnya relatif jarang terjadi. Namun penyakit radang panggul ini dapat terjadi, apabila terdapat bakteri yang masuk kedalam rahim, ketika prosedur pemasangan kontrasepsi IUD ini tidak dilakukan. Resiko penyakit ini juga bisa meningkat, jika pasien melakukan hubungan 5eksual berisiko selama masa 3 minggu setelah pemasangan kontrasepsi IUD tersebut.

Penyakit radang panggul ini biasanya dihubungkan dengan pemasangan alat kontrasepsi IUD, dapat membuat pasien menjadi mandul. Beberapa penelitan menunjukkan, hubungan antara masalah sistem reproduksi wanita dengan pemasangan alat IUD. Namun beberapa dokter juga masih terus meneliti dari kasus tersebut.

Share Artikel ini Agar Bermanfaat untuk Orang Lain
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment